NUSA TENGGARA BARAT — Program BIAS 2026 dari Kementerian Kesehatan memang fokus memberikan vaksin campak-rubela (MR), DT, Td, dan HPV untuk anak usia sekolah. Namun, orang tua perlu memahami bahwa program nasional ini bukanlah satu-satunya acuan imunisasi. Masih ada banyak penyakit berisiko yang perlindungannya justru ada di luar daftar BIAS.
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun rekomendasi IDAI 2024 memuat imunisasi tambahan yang tak kalah krusial. Vaksin-vaksin ini bisa didapatkan di fasilitas kesehatan (faskes) dengan biaya mandiri atau sesuai program setempat. Berikut enam di antaranya.
1. Vaksin Influenza: Imunisasi yang Perlu Diulang Tiap Tahun
Vaksin influenza tidak masuk program BIAS, padahal penyakit ini berbeda dari pilek biasa. Pada anak, influenza berisiko menyebabkan komplikasi serius hingga membutuhkan perawatan rumah sakit.
IDAI merekomendasikan pemberian vaksin ini berulang setiap tahun karena virusnya terus bermutasi. Efektivitasnya pun terbukti kuat: meta-analisis 2024 terhadap 191 studi menunjukkan perlindungan sekitar 48,6 persen terhadap influenza terkonfirmasi laboratorium pada anak di bawah 18 tahun. Vaksin ini juga menekan angka kunjungan rawat jalan dan rawat inap.
2. MMR: Perlindungan Ekstra untuk Penyakit Gondongan
BIAS memberikan vaksin MR (Measles-Rubella) untuk anak kelas 1 SD. Perlu dicatat, vaksin ini tidak melindungi dari gondongan atau mumps. Untuk perlindungan lengkap, anak membutuhkan vaksin MMR yang mengandung komponen mumps di dalamnya.
IDAI memasukkan MMR dalam jadwal imunisasi rekomendasi. Jadi, meski anak sudah mendapat MR saat BIAS, Bunda tetap perlu mengecek riwayat imunisasi untuk memastikan apakah vaksin gondongan sudah diberikan atau belum.
3. Varisela: Mencegah Cacar Air dan Komplikasinya
Cacar air sering dianggap sepele karena bisa sembuh sendiri. Padahal, penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi pada kelompok anak tertentu. Vaksin varisela menjadi jawaban untuk pencegahan dini.
Uji klinis jangka panjang menunjukkan efektivitas dua dosis vaksin varisela mencapai 95,4 persen untuk semua kasus, dan 99,1 persen untuk penyakit sedang hingga berat selama masa tindak lanjut sekitar satu dekade. Ini perlindungan yang signifikan untuk buah hati.
4. Hepatitis A dan Tifoid: Proteksi dari Makanan dan Minuman
Kedua penyakit ini berkaitan erat dengan kebersihan makanan, air, dan sanitasi. Karena itu, keduanya tidak masuk sasaran vaksinasi BIAS yang lebih fokus pada penyakit menular tertentu.
IDAI tetap merekomendasikan imunisasi hepatitis A untuk melindungi fungsi hati, serta vaksin tifoid untuk mengurangi risiko demam tifoid akibat bakteri Salmonella Typhi. Kebutuhan, jenis produk, dan dosis ulang sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak sesuai jadwal terbaru.
5. Vaksin Dengue: Imunisasi Opsional yang Perlu Dipertimbangkan
Hingga 2026, vaksin dengue belum menjadi program imunisasi nasional. Namun, IDAI menyebutkan vaksin ini sudah tersedia di Indonesia dan bisa diberikan di faskes sesuai indikasi serta kelompok usia yang disetujui.
Bukti dari uji klinis fase 3 untuk vaksin TAK-003 menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam melindungi dari demam berdarah. Bunda bisa mendiskusikan dengan dokter anak mengenai risiko dan manfaat pemberian vaksin ini, terutama jika tinggal di daerah endemis.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter Anak?
Jadwal imunisasi tambahan sebaiknya tidak diberikan sembarangan. Konsultasikan selalu dengan dokter anak untuk menyesuaikan usia, kondisi kesehatan, dan riwayat imunisasi si kecil. Beberapa vaksin memiliki syarat khusus, misalnya anak dalam kondisi sehat dan tidak sedang demam.
Melengkapi imunisasi di luar BIAS adalah langkah preventif untuk memberikan perlindungan menyeluruh. Dengan begitu, tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal tanpa gangguan penyakit yang seharusnya bisa dicegah.